Home > Pendidikan > Anak Makin Aktif Dan Kreatif, Lebih Sehat Kala Beranjak Dewasa

Anak Makin Aktif Dan Kreatif, Lebih Sehat Kala Beranjak Dewasa

INGGRIS (SuaraMedia News) – Anak-anak yang aktif dan kreatif saat kecil, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat. Hal itu menurut penelitian yang dilakukan tim peneliti dari University of Ulster, Inggris.

Penelitian melibatkan 505 orang dewasa yang memberikan informasi tentang kondisi kesehatan mereka dan pengalaman saat kecil. “Empat tipe permainan diketahui memiliki dampak yang berbeda pada kondisi kesehatan orang dewasa,” kata tim peneliti seperti diberitakan dari laman Health Day.

Permainan kreatif dan aktif saat kecil membuat anak memiliki kebiasaan yang sehat. Seperti, makan tepat waktu dan banyak melakukan aktivitas fisik. Semakin aktif permainan yang dilakukan saat kecil, maka semakin sehat saat anak berkembang menjadi dewasa kelak. “Memiliki kebebasan dan kesempatan untuk bermain adalah penting untuk semua aspek perkembangan anak yang sering diabaikan. Bermain adalah sesuatu yang paling ingin dilakukan anak-anak dan itu alami serta memiliki dampak luar biasa bagi kondisi saat dewasa kelak,” kata Tony Cassidy dari British Psychological Society.

Untuk itu, pastikan anak-anak Anda bermain dengan aktif dan kreatif. Agar saat dewasa kondisi tubuhnya lebih sehat. Tidak hanya itu, bermain juga memiliki peranan penting bagi kondisi psikologis anak-anak.

Anak yang memiliki keterbelakangan mental atau down syndrome seharusnya diperlakukan sama dengan anak normal lainnya. Jika diberi kesempatan, mereka bisa percaya diri dan berprestasi.
Aryanti Rosihan Yacub mungkin tidak menyangka bahwa anak bungsunya yang kini berusia 20 tahun, Michael Rosihan Yacub, menderita down syndrome. Padahal, saat lahir dia tampak sehat dan normal seperti anak-anak lainnya. Kedatangannya ke dunia pun disambut dengan sukacita seluruh keluarga.

Namun, kelainan itu mulai tampak saat Michael beranjak usia satu tahun. Dokter memvonis bahwa Michael menderita down syndrome. Bak petir di siang bolong, tentu saja Aryanti kaget. ”Dia termasuk down syndrome ringan, jadi tidak terlihat secara kasatmata selama satu tahun itu,” ceritanya.

Apalagi, Michael juga tidak menderita kelainan tubuh apa pun yang biasanya menyertai anak dengan kelebihan kromosom ini. Seperti kelainan jantung, usus, dan lainnya. Seperti ibu-ibu lainnya yang anaknya menderita kelainan, Aryanti sempat terpukul dengan kenyataan pahit yang menghinggapi anaknya itu.

Dia tentu saja terus memikirkan masa depan buah hatinya itu. Terlebih pandangan sinis, cemoohan, dan olokan dari orang-orang sekitar saat bertemu Michael, yang membuat hatinya makin miris. ”Makin sakit saat banyak yang menghindar saat berpapasan dengan Michael. Dipikirnya saya bawa anak yang memiliki penyakit yang menular,” ucap Aryanti.

Karena itu, dia tidak heran banyak orangtua yang justru mengucilkan dan menjauhkan anak down syndrome dari lingkungannya karena takut malu. Namun, lambat laun dengan dukungan dan motivasi dari keluarga dan teman terdekat, Aryanti mulai bangkit. Dia tidak mau kesedihannya itu malah menjadi batu sandungan buat anaknya untuk maju dan berkembang. ”Ini sudah jalannya Tuhan. Jadi, saya bersyukur saja dan terus mendukung anak saya,” katanya.

Bahkan, Aryanti malah bertambah cinta dan kasih sayang kepada anaknya itu. Dia merasa Tuhan selalu memberikan umatnya sesuatu yang indah. Kalaupun satu keluarga diberi anak dengan mental terbelakang, berarti keluarga tersebut merupakan pilihan Tuhan yang terbaik untuk mengasuh anak tersebut.

”Jangan terbuai lama-lama dengan kesedihan. Tabahkan hati, lihat ke depan, karena anak ini perlu segera dibantu. Jalannya memang panjang, tetapi tetap konsisten bahwa mereka pasti bisa. Mereka juga bernilai bagi keluarga dan bangsa,” tegasnya.

Dedikasi dia terhadap penyandang down syndrome pun disalurkan dengan mendirikan Ikatan Sindroma Down Indonesia (ISDI) pada 21 April 1999. Aryanti langsung ditunjuk sebagai ketua. Tujuannya tidak lain adalah mengubah nasib anak-anak tersebut. Dalam wadah ini, mereka diberi pelatihan-pelatihan yang dibutuhkan penyandang down syndrome agar dapat berkembang dan mandiri di hari depan.

”Kita angkat harkat dan martabat mereka sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Kita juga ingin menunjukkan kalau mereka kita olah dan tangani sedini mungkin, kecerdasannya akan hampir sama dengan anak-anak yang normal,” tandasnya. Kini, anggota ISDI telah mencapai 120 anak. Aryanti mengharapkan seluruh elemen masyarakat agar memperhatikan dan memberikan kesempatan kepada penderita down syndrome untuk meningkatkan kreativitas dan kemandiriannya. Jangan selamanya dipasung dan dikebiri.

Orangtua, kata dia, merupakan faktor penting agar para anak dengan keterbelakangan mental ini bisa terus maju dan berkembang. Kenyataannya, mereka dapat menghasilkan prestasi terbaik di bidang seni, keterampilan, ataupun olahraga juga. ”Walaupun kendalanya banyak. Namun, jangan dijadikan momok. Buktinya mereka ada yang menang olimpiade,” ungkap Aryanti.

Melly Kiong, seorang pemerhati anak dan pendiri Rumah Moral, mengatakan jangan lagi menyebut anak down syndrome dengan sampah masyarakat. Mereka, lanjut dia, dapat menjadi ”mutiara bangsa” jika kita dapat mengasah dan membinanya dengan baik.

”Mereka tidak seburuk dugaan orang. Kita ingin mengajak peran semua orang, baik orangtuanya maupun guru sebagai pendidik mereka, juga lingkungan agar melibatkan dan mengajari mereka ‘memancing’, bukan memberikan ‘ikan’,” katanya.

Artinya, saat di rumah, ajari anak sikap-sikap yang menunjukkan kemandirian. Bebaskan dan lepaskan dia melakukan hal apa pun, namun tetap dengan pengawasan penuh. ”Biarkan mereka mandi sendiri, makan sendiri, ajarkan memasak, dan hal-hal sederhana lainnya yang berguna buat kehidupannya kelak,” ujar Melly, yang juga penulis buku ”Cara Kreatif Mendidik Anak” ini.

Di Rumah Moral dan ISDI, anak-anak yang disebut Melly sebagai anak berkebutuhan khusus ini dilatih keterampilan dengan membuat kerajinan tangan atau mainan yang nantinya dijual ke masyarakat umum. Hasil penjualan dapat digunakan untuk membeli keperluan mereka sendiri.

”Waktu itu mereka buat jepit rambut dan laku 200.000 buah. Hasilnya, mereka bisa membeli 10 sepeda. Ini kan bermanfaat buat mereka untuk pergi ke sekolah. Pokoknya, kita tanamkan kepada mereka kalau jangan hanya berpangku tangan, tetapi harus mau bekerja dan berjuang untuk mendapatkan sesuatu,” katanya. Hal ini tentu saja memberikan pelajaran besar bagi anak-anak normal lainnya, bahwa anak yang memiliki keterbelakangan mental saja bisa berbuat sesuatu.

”Ini penanaman mental berjuang yang sangat luar biasa buat anak-anak normal dan orang lainnya untuk tetap semangat mengejar cita-cita, karena sekarang banyak yang merasa itu mulai luntur,” tandas Melly.

Mengasah kreativitas anak bisa dilakukan dengan berbagai hal. Mulai dari permainan yang merangsang sensor motoriknya, hingga bereksperimen dengan sesuatu hal yang kreatif melalui media khusus yang mendukungnya.

Memupuk kreativitas anak tidak harus melalui media-media biasa, seperti kertas atau kanvas. Presenter Dik Doank sering melakukan eksperimen kreatifnya dengan media perantara lain, seperti sangkar burung, kaca, dan tembok.

Pria yang dikenal sangat dekat dengan dunia anak-anak itu memaparkan, pendidikan yang mendukung kreativitas anak sangat penting, sehingga kelak anak-anak tersebut dapat menjadi penerus bangsa yang akan membuatnya jadi besar.

“Karena melalui kreativitas itu lah anak-anak secara tidak langsung dididik sebagai pencipta dan penemu, bukan penjiplak atau peniru. Dari karakter kreatif pada anak-anak itu lah, maka akan lahir anak yang respek pada apapun,” kata Dik Doank di Jakarta.

Begitu pentingnya kreativitas bagi anak-anak, maka saat ini banyak dikembangkan teknik-teknik dalam menstimulus kreativitas anak. Dik Doank pun sering menggunakan beberapa teknik dalam mencari kreativitas ataupun menularkan kreativitas tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.

“Teknik brainstroming (kegiatan yang mendorong timbulnya banyak ide), menggunakan suasana rileks dan menyenangkan dalam menggali ide, dan menggunakan imajinasi (membayangkan apa yang belum terjadi, telah terjadi saat ini) adalah teknik-teknik yang efektif untuk membuat anak dapat memunculkan ide-ide kreatifnya,” jelas pemilik sekolah sekaligus salah seorang pengajar tetap dari sekolah Kandank Jurang Doank (KJD).

Lewat kreativitas tinggi, maka seorang anak bisa memeroleh kecerdasan. Tidak lagi pintar. Sebab, stigma pintar di dunia pendidikan diperoleh dengan tolak ukur mendapatkan nilai baik, nilai tinggi, dan unggul di antara teman lainnya. Padahal, menurut pandangan Dik Doank, anak pintar, belum tentu cerdas. Lain halnya dengan anak yang cerdas.

“Orang cerdas memiliki nilai bagi sekitarnya. Orang yang pintar masih menceritakan tentang nilai dirinya. Sedangkan orang cerdas tidak berbicara mengenai dirinya sendiri lagi, namun beramsimilasi terhadap kondisi dan lingkungan,” tandas pria yang akrab dipanggil om ganteng dengan murid-muridnya, tersenyum ramah. (fn/vs/ok/msn)

www.suaramedia.com

Categories: Pendidikan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: